- Alghuroba.org - http://alghuroba.org -

:: Memahami Kursi Allah
admin  14 April 2008

Tanya :
Apa yang dimaksud ayat mutasyabihat berikut ini : (artinya) “Kursi Allah meliputi langit dan bumi”. (Al Baqarah 255) ?

Basori (Abu Bakar), pelajar Madrasah Aliyah Al Barakah Dabo - Singkep, Sulawesi Tengah.

Jawab :
Surat Al Baqarah 255 yang sering dinamakan ayat Kursi, sesungguhnya tidaklah tergolong ayat mutasyabihat. Tetapi ia adalah ayat muhkamat, yang dengan jelas dan gamblang menerangkan tentang kursi Allah. Kata kursi di ayat ini tidaklah dita’wilkan kepada kekuasaan atau makna lainnya. Tetapi diartikan dengan apa yang telah diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam dalam sabda beliau berikut ini :

“Demi yang diriku ada di tangan-Nya, tidaklah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh bila diletakkan pada Kursi Allah, seperti perbandingan satu gelang tangan yang dilemparkan di padang pasir. Dan sesungguhnya perbandingannya Arsy Allah dengan Kursi-Nya, seperti perbandingan padang pasir itu dengan gelang tangan tersebut”. (HR. Ibnu Mardawaih dengan sanadnya dari Abi Dzar radhiyallahu anhu sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsir beliau terhadap S. Al Baqarah 255).

Juga Ibnu Katsir Rahimahullah membawakan riwayat Syuja’ bin Mukhallad dan Ibnu Mardawaih dengan sanadnya dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam bersabda :


“Kursi Allah itu adalah tempat Kedua Telapak Kaki Allah, dan Arsy itu tidak bisa diukur dengan satu ukuran kecuali hanya Allah yang mengetahui ukurannya”.

Memang ada riwayat penafsiran dari Ibnu Abbas tentang makna Kursi Allah itu dikatakan adalah Ilmu Allah. Riwayat tersebut dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya riwayat ke 2599, jilid 2 hal. 490. Akan tetapi riwayat tersebut lemah karena dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Ja’far bin Abi Mughirah yang terkenal kelemahannya ketika meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Demikian guru kami dan pembimbing kami Al Allamah Al Imam Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i Rahimahullah menegaskan. Al Ustadz Ja'far Umar Thalib